Masjid Al Bay’ah – Ikrar Antara Umat Islam & Ansar

masjid albay'ah

Salah satu tempat terpenting yang dikunjungi selama haji adalah Masjid Bay’ah, juga dikenal sebagai Masjid Bukit Aqaba. Itu terletak di luar Mekah (atau Makkah) di Arab Saudi.

Dibangun dan dikembangkan oleh Khalifah Abu Ja’far al-Mansur pada tahun 761 M, menempati situs bersejarah al-Bay’ah.

Tempat ini sering dikunjungi selama haji sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad (SAW), di mana dia berkumpul dengan kaum Ansar (yang mendukungnya), yang mengarah pada ikrar khidmat di Aqaba.

Tempat Masjid Al Bay’ah

Masjid Al Bay’ah terletak di luar Mekah (atau Makkah), sebuah kota penting dalam tradisi Islam. Itu sekitar lima kilometer dari Madinah, yang dikunjungi oleh peziarah selama haji.

Masjid di dekat Makkah ini memiliki arti sejarah karena berada di lingkungan spiritual Arab Saudi. Karena merupakan bukti peristiwa penting yang terjadi di dan sekitar Makkah dan Madinah pada masa awal Islam, lokasi itu sendiri membawa rasa kesucian selama haji.

Dengan lokasi yang tepat di dekat Makkah, tempat ini memungkinkan pengunjung untuk merasa dekat dengan dasar keimanan dan memberikan suasana yang tenang untuk berpikir dan berdoa. Selama haji dan umrah, lingkungan sekitar berkontribusi pada aura masjid; ini menciptakan suasana yang baik untuk berpikir spiritual dan menghubungkan diri dengan kekayaan warisan Islam.

Lokasinya di luar Mekah (atau Makkah) dan beberapa kilometer dari Madinah, Masjid Al Bay’ah menjadi mercusuar bagi mereka yang ingin belajar lebih banyak tentang aspek budaya dan sejarah Islam dan memungkinkan mereka untuk menghormati Nabi Muhammad (SAW), terutama selama haji.

Apa arti kata “Bay’ah” atau “Biah”?

Dalam Islam, istilah “Bay’ah” atau “Biah” mengacu pada janji atau perjanjian yang khidmat, yang seringkali melambangkan kesetiaan, kesetiaan, dan komitmen.

Hal ini terkait dengan Masjid Al Bay’ah, yang terletak dekat Makkah dan agak jauh dari Madinah, dan menggambarkan pertemuan sejarah Nabi Muhammad (SAW) dengan kaum Ansar (pendukung), di mana mereka secara kolektif mengatakan “bayah”. tempatnya.

Perbuatan suci “Bay’ah” ini menunjukkan adanya kesepakatan dan pengabdian yang mengikat antara individu dan tokoh atau pemimpin yang mereka pilih. Ini mempromosikan persatuan dan kolaborasi dalam komunitas Islam selama haji dan umrah dan merupakan ekspresi simbolis dari kesetiaan dan ketaatan pada tujuan bersama.

Memahami arti “Bay’ah” membuat kisah sejarah yang terkait dengan Masjid Al Bay’ah, terutama selama haji dan umrah, lebih menarik perhatian pada makna spiritual dan komunal istilah ini dalam tradisi Islam.

Sejarah Masjid Al Bay’ah

Masjid Al Bay’ah sangat penting karena merupakan lokasi di mana Nabi Muhammad (SAW) dan Ansar melakukan perjanjian sejarah. Janji yang dibuat antara mereka dan Nabi Muhammad (SAW)—juga dikenal sebagai “Bay’ah”—bukan sekadar tindakan simbolis; itu meletakkan dasar untuk membangun masyarakat Islam yang adil dan bersatu.

Masjid Al Bay’ah menjadi saksi masa awal Islam di dekat Makkah dan Madinah, menunjukkan pentingnya persatuan dan kerja sama di antara komunitas Muslim. Usaha-usaha yang dilakukan di sana menumbuhkan rasa persaudaraan, mengedepankan keadilan, kesetaraan, dan saling mendukung.

Selain itu, Masjid Al Bay’ah adalah bukti kebijaksanaan dan kepemimpinan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur, yang, pada tahun 761 M, menyadari pentingnya lokasi ini dan memutuskan untuk membangunnya.

Warisan abadi Masjid Al Bay’ah tidak hanya memiliki nilai sejarah dan arsitekturnya, tetapi juga memberikan pelajaran abadi tentang kekuatan ikatan komunitas dan perjuangan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dalam kerangka Islam.

Konstruksi Masjid Al Bay’ah

Masjid Al Bay’ah memiliki fitur arsitektur yang unik yang memenuhi kebutuhan jamaah sambil mempertahankan pesona sejarahnya dan pentingnya untuk ibadah haji.

Di dekat Makkah dan hanya beberapa kilometer dari Madinah, masjid ini memiliki halaman terbuka yang luas yang memungkinkan orang untuk berkumpul dan sholat bersama.

Karena lokasinya yang strategis di bawah Wadi Mina, sekitar 300 meter dari Jamrah al-‘Aqaba, atau Rajam Setan, menjadi lebih penting dari segi geografis.

Masjid ini di luar Makkah berada di sudut timur-barat, dengan kiblat (arah Mekah atau Makkah) di sudut barat daya.

Orientasi ini dengan sengaja menekankan keselarasan dengan kota suci Mekah (atau Makkah), yang membantu jamaah merasa lebih dekat dengan hubungan spiritual selama haji. Dengan elemen bergaya tembok pembatas di atasnya, dinding kiblat adalah fitur arsitektur yang menonjol.

Elemen arsitektur ini mungkin memiliki dua fungsi: menopang balok kayu untuk atap ruang salat atau hanya menjadi hiasan.

Arsitektur fasad bagian dalam tanpa hiasan memiliki hiasan minimal dan pola ukiran yang sedikit terlihat. Mihrab, bagian atas arcade pusat, dan relung-relung kecil di sekitarnya adalah tempat pola-pola ini terkonsentrasi.

Tiga lengkungan berbentuk setengah lingkaran, satu agak runcing, dan lengkungan paling selatan sepenuhnya berbentuk segitiga membedakan bagian tengah. Berbagai ukuran portal melengkung membantu menghasilkan fasad bagian dalam yang harmonis dan tidak seragam.

Masjid-masjid Lain di Arab Saudi

Berikut adalah beberapa contoh dari warisan masjid yang kaya di Arab Saudi:

Masjid Jawatha

Masjid Jawatha terletak di al-Ahsa, sekitar 12 km timur laut Hofuf, Arab Saudi. Dibangun sekitar tahun 629 M, itu dianggap sebagai tempat kedua di mana orang melakukan salat Jumat setelah Masjid an-Nabawi.

Masjid Quba

Pada hari Senin, 12 Rab’i al-Awwal, 14 tahun setelah Kenabian (16) Juli 622 M, kalender Islam (Hijrah) dimulai pada Masjid Quba, tempat Nabi Muhammad (SAW) dan Abu Bakar (RAH) mencari perlindungan setelah berhijrah dari Makkah.

Masjid ini unik karena merupakan masjid pertama dalam sejarah Islam yang didirikan oleh Nabi Muhammad (SAW) di luar Makkah dan Madinah.

Masjid Saba

Di sisi barat Gunung Sala’ di Madinah (atau Madinah), ada tujuh masjid, juga disebut sebagai Masjid Saba.

Pada awalnya tujuh, kelompok ini sekarang terdiri dari enam masjid. Kelompok ini memiliki arti sejarah yang signifikan karena berada di dekat parit yang digali selama Pertempuran Parit untuk mempertahankan Madinah (atau Madinah) pada masa Nabi.

———

Masjid Al Bay’ah adalah masjid yang penting secara religius dan historis di dekat Makkah. Setelah mempelajari lokasinya, signifikansinya, dan detail arsitekturnya, ia tampak seperti simbol persatuan, komitmen, dan warisan abadi Islam dan Islam. Nabi Muhammad

You cannot copy content of this page