Hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Peristiwa ini bukan hanya menandai lahirnya masyarakat Islam Madinah, tetapi juga menjadi tonggak dimulainya kalender Hijriah.
Di tengah perjalanan hijrah, terdapat sebuah episode dramatis penuh strategi, pengorbanan, keteguhan iman, dan perlindungan Allah SWT: yaitu kisah persembunyian Rasulullah SAW dan sahabat mulianya Abu Bakar As-Siddiq radhiallahu ‘anhu di Gua Tsaur (غار ثور).
Gua Tsaur hari ini menjadi salah satu situs sejarah yang banyak dikunjungi jamaah haji dan umrah. Namun lebih dari sekadar tempat wisata religius, gua tersebut menyimpan nilai spiritual dan strategi militer yang patut dikaji mendalam.
Baca Juga: 10 Destinasi Wisata Religi Saat Umroh dan Bersejarah
Lokasi dan Kondisi Gua Tsaur
Gua Tsaur terletak di Jabal Tsaur, sekitar 4 km di selatan kota Mekah, dengan puncaknya mencapai ketinggian sekitar 748 meter di atas permukaan laut. Secara fisik, gua ini merupakan sebuah celah pada batuan gunung yang berbentuk lubang sempit dengan tinggi kurang lebih 1,25 meter.
Terdapat dua lubang (pintu) pada batu gua:
- lubang bagian barat, yang menjadi jalur masuk Nabi SAW dan Abu Bakar RA
- lubang bagian timur, yang berfungsi sebagai celah udara dan cahaya
Ukuran yang kecil dan posisi yang berada di ketinggian membuat gua ini cukup sulit ditemukan dan dijangkau — sebuah faktor penting dalam keberhasilan persembunyian tersebut.
Strategi Hijrah dan Trik Mengelabui Kaum Quraisy
Hijrah Rasulullah SAW menuju Madinah secara logika geografis mengharuskan beliau bergerak ke arah utara. Namun, strategi yang dilakukan Nabi justru sebaliknya. Beliau bergerak ke arah selatan, yakni menjauhi Madinah, untuk mengelabui kaum Quraisy.
Pada saat itu kaum Quraisy telah menyiapkan sayembara besar: hadiah 100 ekor unta bagi siapa pun yang berhasil menemukan atau menangkap Nabi SAW dan Abu Bakar, baik hidup maupun mati. Besarnya hadiah ini menunjukkan betapa seriusnya usaha Quraisy dalam menggagalkan hijrah Nabi.
Dengan bergerak berlawanan arah, mereka berharap Quraisy akan menyangka bahwa Rasulullah SAW telah melarikan diri menuju Madinah, sehingga pengejaran diarahkan ke utara. Sementara itu, Nabi SAW dan Abu Bakar justru bersembunyi di Gua Tsaur selama tiga hari.
Peran Abdullah bin Abu Bakar dalam Operasi Hijrah
Dalam persembunyian ini, Abdullah bin Abu Bakar, seorang pemuda cerdas dan cepat memahami situasi, memiliki peran intelijen penting. Ia mengumpulkan informasi tentang rencana Quraisy dan menyampaikan laporan ke gua setiap malam.
Dalam sebuah riwayat sahih disebutkan:
النَّصُّ:
ثُمَّ لَحِقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ بِغَارٍ فِي جَبَلِ ثَوْرٍ، فَكَمَنَا فِيهِ ثَلَاثَ لَيَالٍ… (HR Al-Bukhari no. 3905)
Transliterasi:
“Thumma laḥiqa Rasūlullāh ﷺ wa Abū Bakr bi ghārin fī jabal Ṯsaur, fakamanā fīhi ṯsalāṯa layāl…”
Terjemahan:
“Rasulullah SAW dan Abu Bakar pergi ke gua di Jabal Tsaur, dan bersembunyi di dalamnya selama tiga malam…”
Riwayat ini menunjukkan bahwa proses hijrah bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga operasi strategis terencana, yang melibatkan pengumpulan informasi dan komunikasi rahasia.
Saat Kaum Quraisy Hampir Menemukan Gua
Puncak ketegangan terjadi ketika pasukan berkuda Quraisy dan para pelacak jejak mengikuti arah perjalanan Nabi hingga mencapai puncak Jabal Tsaur. Mereka berdiri tepat di atas gua. Seandainya mereka menundukkan kepala, keberadaan Rasulullah SAW dan Abu Bakar akan terungkap.
Dalam momen genting itu, Abu Bakar diliputi kekhawatiran. Tidak karena takut atas dirinya, tetapi karena keselamatan Rasulullah SAW. Ia menuturkan dalam riwayat sahih:
النَّصُّ:
نَظَرْتُ إِلَى أَقْدَامِ الْمُشْرِكِينَ عَلَى رُءُوسِنَا وَنَحْنُ فِي الْغَارِ… (HR Al-Bukhari no. 3653)
Transliterasi:
“Naẓartu ilā aqdāmi al-musyrikīn ‘alā ru’ūsina wa naḥnu fī al-ghār…”
Terjemahan:
“Aku melihat kaki-kaki kaum musyrikin di atas kepala kami ketika kami berada di dalam gua…”
Abu Bakar berkata kepada Nabi:
النَّصُّ:
لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ إِلَى قَدَمَيْهِ أَبْصَرَنَا تَحْتَ قَدَمَيْهِ
Transliterasi:
“Law anna aḥadahum naẓara ilā qadamayhi la-abṣaranā taḥta qadamayhi.”
Terjemahan:
“Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kedua kakinya, niscaya ia melihat kami.”
Namun Rasulullah SAW menenangkan Abu Bakar dengan kalimat penuh keyakinan ilahiah:
النَّصُّ:
يَا أَبَا بَكْرٍ مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا
Transliterasi:
“Yā Abā Bakr, mā ẓannuka bi ṯsnavayn, Allāhu ṯsāliṡuhumā.”
Terjemahan:
“Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang dua orang sedangkan yang ketiganya adalah Allah?”
Kalimat tersebut bukan hanya keteguhan iman, tetapi juga pelajaran bahwa pertolongan Allah hadir pada waktu yang menurut logika manusia hampir mustahil.
Penguat dari Al-Qur’an
Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an dalam Surah At-Taubah ayat 40:
النَّصُّ:
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Transliterasi:
“Iḏ yaqūlu liṣāḥibihī lā taḥzan, inna Allāha ma‘anā.”
Terjemahan:
“Ketika ia (Nabi) berkata kepada sahabatnya: Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Ayat ini menjadi salah satu ayat paling kuat tentang ketenangan hati, tawakal, dan pertolongan Allah.
Meluruskan Kisah Laba-laba dan Merpati
Dalam masyarakat muslim populer cerita tentang laba-laba yang membuat sarang di mulut gua dan dua merpati yang bersarang untuk mengelabui kaum Quraisy. Namun riwayat-riwayat tersebut berstatus lemah menurut ahli hadits. Yang sahih justru menggambarkan ketakutan Abu Bakar ketika melihat kaki para pengejar.
Jika benar mulut gua tertutup sarang laba-laba, tentu Abu Bakar tidak akan khawatir mereka melihat ke bawah.
Meluruskan hal ini bukan untuk mengurangi keindahan cerita, tetapi agar sejarah dijaga dengan riwayat yang kuat.
Makna Strategis dan Spiritual Gua Tsaur
Peristiwa Gua Tsaur mengandung banyak hikmah, antara lain:
1. Hijrah adalah Perintah dan Strategi
Hijrah bukan pelarian, melainkan perpindahan untuk menyelamatkan dakwah.
2. Tawakal Tidak Menghapus Ikhtiar
Rasulullah SAW berstrategi, bergerak, menyembunyikan jejak, mengumpulkan intelijen, dan bersembunyi — baru setelah itu bertawakal kepada Allah.
3. Abu Bakar Sebagai Sahabat Terdekat
Peristiwa ini memperkuat gelar Ash-Shiddiq karena keyakinannya yang total kepada Rasulullah SAW.
4. Ketenangan Nabi dalam Situasi Kaya Risiko
Sebab beliau mengetahui bahwa Allah adalah penolong terbaik.
Gua Tsaur dalam Ziarah Modern
Kini Gua Tsaur menjadi situs sejarah yang ramai diziarahi. Namun mendaki ke puncaknya membutuhkan fisik kuat karena medan sulit. Banyak jamaah memilih melihatnya dari kejauhan atau mempelajari kisahnya tanpa mendaki.
Penutup
Kisah Gua Tsaur bukan sekadar catatan sejarah, tetapi pelajaran tentang iman, strategi, keberanian, dan pertolongan Allah SWT. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kemenangan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi oleh perpaduan antara ikhtiar manusia dan pertolongan Allah.
Jika Anda sedang mencari layanan perjalanan travel umroh Bandung, Rawda Travel & Umroh adalah pilihan yang sangat direkomendasikan. Sebagai agen perjalanan terpercaya, kami menyediakan layanan berkualitas dengan harga yang bersahabat. Sejak tahun 2003, kami telah menjadi mitra utama bagi jemaah yang ingin menunaikan ibadah umrah ke tanah suci, didukung oleh reputasi dan pengalaman yang solid.
Kami juga menawarkan paket eksklusif “Umroh Plus Turki Bandung” dan ” Umroh Plus Dubai Bandung” yang tidak kalah menarik. Langsung saja kunjungi website resmi kami untuk mendapatkan pengalaman ibadah yang berkah dan berkesan.
Baca Juga: 10+ Rekomendasi Tempat Makan Dekat Masjid Nabawi Paling Enak
Baca Juga:
- Mengenal Jabal Tsur Tempat yang Digunakan Nabi…
- Sejarah Ibadah Haji dan Umroh
- Nama Bulan dalam Kalender Islam Beserta Artinya
- Kisah dan Makna Dibalik Turunnya Surah Al-Lahab
- 32 Doa Untuk Orang Umroh Mabrur yang Dapat Dipanjatkan
- 16 Tempat bersejarah di Mekkah dan Madinah
- Hikmah Haji dan Umroh
- Siapa Yakjuj dan Makjuj Dan Kaitannya Dengan Hari Kiamat
- 7 Tips Menghadapi kerumunan Saat sedang Tawaf di…
- 55 Contoh Titip Doa Umroh